events : Rossa - Konser Persembahan Cinta

 

 

Rossa - Konser Persembahan Cinta
Update: November 2008

Kekentalan atmosfir romantisme di Jakarta tampak berkumpul pada malam itu dalam Konser full-house Rossa “Persembahan Cinta”, dimana sebagian besar pengunjung berpelukan mesra sambil menikmati alunan nada-nada melankolis. Chris Andre mengisahkan kemegahan konser yang berlandaskan atas nama cinta.

Berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), 26 November 2008, Konser “Persembahan Cinta” menguji kualitas Rossa sebagai salah satu diva lokal yang telah berkarir dalam dunia tarik suara selama 12 tahun. Boleh dibilang, malam tersebut adalah puncak karirnya, serta persembahan teristimewa bagi para penggemar. Di sisi lain, Sumber Ria, perusahaan rental audio yang bertanggung jawab atas tata suara, berambisi untuk membuat sebuah terobosan baru dalam sistem rekaman penampilan live. Andre Supryanata beserta Eko Sugiarto, yakni kedua kepala supervisi audio dari Sumber Ria, menginginkan hasil rekaman mendetail melalui sinkronisasi workstation audio digital Pyramix versi 6.0 dengan Masscore dari Merging Technologies yang mampu mencakup keseluruhan rincian rangkaian acara berdurasi satu setengah jam tersebut. “Kami juga memakai stage rack DiGiCo D1 dengan 112 channel untuk monitor, DiGiCo D5 sebagai master mixing, dan Soundcraft MH4 untuk konsol yang mengatur kumpulan string section. Sehingga, pe-mixing-an setelah acara dapat digarap dengan sempurna,” ujar Supryanata, yang akrab dengan Erwin Gutawa dan Jay Subijakto, para produser konser. Satu buah DiGiCo D5 juga tersedia bagi fasilitas rekaman SCTV, yakni siaran televisi swasta – hasil rekaman yang dilaporkan meraih rating yang cukup signifikan sewaktu ditayangkan di layar kaca dua hari seusai acara. “Konser ini merupakan salah satu ajang yang paling bergengsi dalam setahun,”beliau menambahkan, “jadi, jangan sampai ada kelalaian atau kesalahan teknis.” Ruang direksi 5 dimana tim Sumber Ria dan SCTV bercokol memang tampak tentram dan jauh dari masalah. Tetapi, apa yang terjadi di panggung konser?

Setelah hitungan mundur, pada layar tampak iris hitam-kecoklatan mata milik penembang asal Sumedang, Jawa Barat. Tiba-tiba layar terbelah dua dan di rongga tengah Rossa mengenakan desain baju turquoise seksi menembus masuk ke atas panggung. Menggenggam Shure KSM9 berhiaskan kilauan cantik, biduan umur tiga-puluhan itu mulai melantunkan suara lembutnya, membangkitkan kembali hits pertamanya pada tahun 1996, “Nada-nada Cinta”. Tanpa diiringi oleh musik, kemerduan suara Rossa menghentak takjub penonton seraya membuktikan kelayakan atas penjualan tiket yang ludes sebelum hari H. Begitu pula, kualitas vokal tersebut mendasari Sumber Ria untuk menata Loudspeaker Meyer Sound DS-4P diantara lapisan MSL-4 sebagai susunan utama sistem PA. Keindahan melodi natural Rossa tersampaikan secara utuh, dan bahkan para penonton di barisan tengah dapat menikmati suaranya seakan-akan dia menyanyi sejauh satu meter dari pandangan mata. Khusus untuk nada berfrekuensi rendah, Subwoofer 650P Meyer Sound dipercayakan mampu memhantarkan kepuasan audio tersendiri. Terlepas dari keunggulan sistem Meyer Sound milik tempat pelaksanaan acara, vibrasi khas Rossa dalam nyanyian juga terdengar jelas berkat software Cubase, yang memfasilitasi efek suara baik dari vokalis utama sampai dengan tiap instrumen lewat RME MADI Card terhubung ke konsol DiGiCo. Alhasil, penampilan awal Rossa yang sangat memukau menebus penantian panjang sebelum acara tadi.

Satu lagu berakhir dan penonton bertepuk-tangan antusias. Rossa segera menyambut apa yang bersembunyi dibalik belakang panggung kanan. Sebuah panggung bujur-sangkar beroda yang memuat semua pemain band meluncur kearah tengah panggung. Setiap pemainnya telah dipasang monitor mixer Aviom untuk memudahkan pengaturan volume suara secara mandiri. Lengkap dengan AN-16A/i input module, A-16D Pro A-net distributor, dan lima mixer A-16R Rack-mount, band menggebrak keras drum, diikuti iringan bass, organ elektronik, serta saksofon romantis. Komposisi “Terlalu Cinta” mengalir perlahan, Rossa siap menghaturkan kembali keindahan olah vokalnya. Satu hal menarik, riuh musik band ternyata tak menggilas suara lembut sang primadonna panggung; kejernihan buaian nada – yang keluar dari rangkaian Meyer Sound – benar-benar menyedot perhatian pengunjung.

Kedua single berikutnya segera memanaskan lantai panggung. Dentuman beat-beat disko diusung asyik dalam “Malam Pertama” dan dilanjutkan pula oleh lagu kedua yang sarat akan ritme samba rancak didukung petikan gitar handal. Dibalik riang dan aksi panggungnya kesana-kemari, kontrol vokal Rossa sebenarnya cukup bergantung pada Meyer MJF-212, monitor vokal panggung utama. Dengan eksterior hitam kilat, kemiringan sudut sisi depan 40-derajat, dan kualitas suara yang unggul, MJF-212 digembar-gemborkan sebagai tren monitor panggung mendatang.

Sejenak rehat penyanyi di belakang panggung, Erwin Gutawa bersama 60-pemain orkestra keluar dari balik persembunyianya, meluncur diatas panggung kotak besar beroda dari belakang kiri panggung. Medley instrumental lagu-lagu Rossa segera mengalir lembut dari kumpulan instrumen gesek, walau Soundcraft MH4 ialah yang memegang kendali akan penampilan optimal string section.

Konser berjalan begitu sempurna sampai saat dimana Ungu, band legendaris asal ibukota, berduet bersama Rossa. Satu kekurangan menodai aksi duet berasal dari microphone Pasya – Shure Beta 58, menurut laporan beberapa saksi mata – yang sempat nyala-mati sepanjang lagu. Pihak Sumber Ria mengkonfirmasi bahwa microphone tersebut adalah properti pribadi band dan sudah diuji coba sewaktu gladi bersih terakhir sore harinya. Entah siapa yang patut disalahkan, konser haruslah tetap berjalan.

Lagu tema dari sebuah film nasional yang berjudul serupa, “Ayat-ayat Cinta” menggiring 24 penari berjubah etnik mengelilingi Rossa. Sebagai lagu penutup, Rossa merengkuh Shure KSM9 sekali lagi dan menghantarkan lagu pembukanya, “Nada-nada Cinta,” yang kali ini diiringi musik mewah, gabungan antara band dan orkestra - semua berkat DiGiCo, Meyer Sound, Pyramix, dan, tentunya, kerjasama tim yang luar biasa. 

project list

2008