events : Gebrakan Cadas Penuh Efek Di Konser AVA

 

 

Gebrakan Cadas Penuh Efek Di Konser AVA
Update: December 2008

  Balutan hamparan kain merah darah melapisi langit-langit tennis indoor, dan sebuah bendera bertitel AVA (Angels & Airwaves) dengan corak biru-merah negara superpower asal band tersebut terpampang mencolok sebagai background panggung. Tak hanya mendominasi dinding panggung dan kaos anak-anak band lokal yang penuh gairah menanti gebrakan musik punk rock, warna hitam pekat juga menyederhanakan tampilan tumpukan EAW KF 760 dan 761, memberikan tampilan tenang dibalik jangkauan hentakan keras ratusan feet-nya.

Gelaran konser 9 Desember di Tennis Indoor Senayan Jakarta oleh promotor kawakan Java Musikindo menjadi ajang pembuktian kebolehan band yang dirintis oleh pentolan Blink 182, Tom Delonge, sekaligus mendongkrak penjualan album terbaru mereka, bertajuk I-Empire. Sehari kemudian, AVA akan terbang ke Bali, menebarkan pesona nuansa intim konser akustik di Hard Rock Cafe – padahal petikan maut gitar-gitar elektrik terasa begitu kaya dalam single unggulan mereka bak Everything’s Magic.

Untungnya, AVA mengajak Shawn Sebastian untuk memaku perhatian penonton Jakarta dari segi kendali mixing sound. Tiga-puluh menit sebelum detik-detik konser, sound engineer bercelana pendek itu membuka operasi Smaart v.6, menyiapkan fader konsol mixer FOH DiGiCo D5, membuka list lagu-lagu konser, dan berkacak pinggang sejenak. Tuning sistem digarap dalam hitungan menit lewat software Smaart versi ke-6 (System Measurement Acoustic Analysis Realtime Tool) yang dirilis setahun lalu oleh perusahaan audio papan atas, EAW. Shawn ternyata juga familiar dengan kendali konsol-konsol DiGiCo, sehingga beliau tak tanggung-tanggung untuk melancarkan effek-effek suara rahasianya.

Pukul 8.10 tepat, 4 anggota lengkap band tersebut memulai menggeber panggung, menyanyikan  Call the Arms secara keras, lantang, jauh lebih dahsyat dibanding versi rekamannya. Tembakan suara dari rangkaian sistem PA tiap sisi panggung, yakni 6 loudspeaker EAW KF 760 dengan 2 buah KF 761 tergantung 4,5 meter di atas tanah, terasa begitu mantap dan jernih, menyedot perhatian 2500 lebih penonton depan panggung serta tribune mengingat kapasitas sudut dispersi vertikal loudspeaker sejauh 80°. Full-range power amplifier bagi kedua seri EAW adalah Lab.gruppen FP 6400, dan Crest Audio 8001 berperan pada sub array – kedua-duanya tak lepas dari kontrol processor managemen loudspeaker XTA DP 226. Sorak penonton seraya memekik seketika dentuman drum DW tersalurkan oleh dua mikrofon drum handal, SM Beta 91 Shure dan Audix D6 , lewat 6 subwoofer EAW SB550 di tiap sisi panggung menggetarkan lantai gedung. Selain itu, 6 buah RCF Art 500 hadir sebagai center-fill bersama serian KV2 audio menghantarkan outer-fill. Monitor panggung mencakup in-ear monitor dan konsol DiGiCo D1 yang dipegang oleh Sky, monitor engineer band Angels & Airwaves.

Meski suara sang vokalis terdengar sarat akan efek reverb yang terkadang mengurangi kejelasan artikulasi lirik, volume permainan instrumen band cukup memekikkan telinga sebagaimana Eko Eddy Sugiarto, supervisor audio konser dari Sumber Ria, sempat berujar sebelum acara, “Mereka [AVA] akan bermain keras banget dan bertempo cepat – tipikal anak band punk rock.” Walau demikian, puluhan penonton tampak sangat menikmati aransemen rock agresif, menggelengkan kepala – moshing – sambil melafalkan “Aren’t we all distractions?” reffrain single ke-lima, Distraction.

Total 14 komposisi cadas Angels & Airwaves, termasuk hits-hits laris seperti The Adventure, The War, dan It Hurts, menghibur penonton Jakarta selama satu setengah jam malam itu. Terlihat dalam bubaran pengunjung, musisi-musisi band lokal meliputi Armand Maulana, Ridho Slank, Tyo Nugros tersenyum puas serta menggangguk sesekali – mengakui kedahsyatan musik konser rock band yang sebenarnya masih berusia jagung tersebut.

www.audixusa.com
www.digico.org
www.eaw.com
www.javamusikindo.com
www.labgruppen.com
www.rcfaudio.com
www.shure.com

project list

2008