Balutan hamparan kain merah darah melapisi langit-langit tennis indoor,
dan sebuah bendera bertitel AVA (Angels & Airwaves) dengan corak
biru-merah negara superpower asal band tersebut terpampang mencolok
sebagai background panggung. Tak hanya mendominasi dinding panggung dan
kaos anak-anak band lokal yang penuh gairah menanti gebrakan musik punk
rock, warna hitam pekat juga menyederhanakan tampilan tumpukan EAW KF
760 dan 761, memberikan tampilan tenang dibalik jangkauan hentakan keras
ratusan feet-nya.
Gelaran konser 9 Desember di Tennis Indoor
Senayan Jakarta oleh promotor kawakan Java Musikindo menjadi ajang
pembuktian kebolehan band yang dirintis oleh pentolan Blink 182, Tom
Delonge, sekaligus mendongkrak penjualan album terbaru mereka, bertajuk
I-Empire. Sehari kemudian, AVA akan terbang ke Bali, menebarkan pesona
nuansa intim konser akustik di Hard Rock Cafe – padahal petikan maut
gitar-gitar elektrik terasa begitu kaya dalam single unggulan mereka bak
Everything’s Magic.
Untungnya, AVA mengajak Shawn Sebastian
untuk memaku perhatian penonton Jakarta dari segi kendali mixing sound.
Tiga-puluh menit sebelum detik-detik konser, sound engineer bercelana
pendek itu membuka operasi Smaart v.6, menyiapkan fader konsol mixer FOH
DiGiCo D5, membuka list lagu-lagu konser, dan berkacak pinggang
sejenak. Tuning sistem digarap dalam hitungan menit lewat software
Smaart versi ke-6 (System Measurement Acoustic Analysis Realtime Tool)
yang dirilis setahun lalu oleh perusahaan audio papan atas, EAW. Shawn
ternyata juga familiar dengan kendali konsol-konsol DiGiCo, sehingga
beliau tak tanggung-tanggung untuk melancarkan effek-effek suara
rahasianya.
Pukul 8.10 tepat, 4 anggota lengkap band tersebut
memulai menggeber panggung, menyanyikan Call the Arms secara keras,
lantang, jauh lebih dahsyat dibanding versi rekamannya. Tembakan suara
dari rangkaian sistem PA tiap sisi panggung, yakni 6 loudspeaker EAW KF
760 dengan 2 buah KF 761 tergantung 4,5 meter di atas tanah, terasa
begitu mantap dan jernih, menyedot perhatian 2500 lebih penonton depan
panggung serta tribune mengingat kapasitas sudut dispersi vertikal
loudspeaker sejauh 80°. Full-range power amplifier bagi kedua seri EAW
adalah Lab.gruppen FP 6400, dan Crest Audio 8001 berperan pada sub array
– kedua-duanya tak lepas dari kontrol processor managemen loudspeaker
XTA DP 226. Sorak penonton seraya memekik seketika dentuman drum DW
tersalurkan oleh dua mikrofon drum handal, SM Beta 91 Shure dan Audix D6
, lewat 6 subwoofer EAW SB550 di tiap sisi panggung menggetarkan lantai
gedung. Selain itu, 6 buah RCF Art 500 hadir sebagai center-fill
bersama serian KV2 audio menghantarkan outer-fill. Monitor panggung
mencakup in-ear monitor dan konsol DiGiCo D1 yang dipegang oleh Sky,
monitor engineer band Angels & Airwaves.
Meski suara sang
vokalis terdengar sarat akan efek reverb yang terkadang mengurangi
kejelasan artikulasi lirik, volume permainan instrumen band cukup
memekikkan telinga sebagaimana Eko Eddy Sugiarto, supervisor audio
konser dari Sumber Ria, sempat berujar sebelum acara, “Mereka [AVA] akan
bermain keras banget dan bertempo cepat – tipikal anak band punk rock.”
Walau demikian, puluhan penonton tampak sangat menikmati aransemen rock
agresif, menggelengkan kepala – moshing – sambil melafalkan “Aren’t we
all distractions?” reffrain single ke-lima, Distraction.
Total 14
komposisi cadas Angels & Airwaves, termasuk hits-hits laris seperti
The Adventure, The War, dan It Hurts, menghibur penonton Jakarta selama
satu setengah jam malam itu. Terlihat dalam bubaran pengunjung,
musisi-musisi band lokal meliputi Armand Maulana, Ridho Slank, Tyo
Nugros tersenyum puas serta menggangguk sesekali – mengakui kedahsyatan
musik konser rock band yang sebenarnya masih berusia jagung tersebut.
www.audixusa.com www.digico.org www.eaw.com www.javamusikindo.com www.labgruppen.com www.rcfaudio.com www.shure.com
|